“Qobiltu Nikahaha wa Tazwijaha alal Mahril Madzkuur……”
Sobat semua, pada tau kan doa diatas artinya apa?? Pasti tau donkk…
Hmmm…. akhir-akhir ini banyak banget renungan tentang pernikahan yang mampir dan hinggap selama berhari-hari dalam pikiran, wall facebook, sms dan lain sebagainya.
Renungan pernikahan ini cocok banget dah buat anak-anak muda seperti aku yg lagi ngebet banget kawin muda, atau bahkan yang sudah berumah tangga selama bertahun-tahun atau yang baru saja menjalani.
Pernikahan?? Apa sih?? Penting ga??
Ya penting ga penting sih, karena pernikahan itu-kan mengikuti sunah rosul, dan orang yg telah menikah bisa dibilang telah
menyempurnakan setengah dien-Nya. Kalau ada orang yg memilih untuk tidak menikah, ya itu hak nya dia juga sih, tapi mau disalurkan kemana hasrat dari hormon2 testoteronnya?? haeeooo…. masak ya mo sembarangan jajan ato sama sembarang orang?? selain zina, itu juga ga sehat, ga baik juga. Bisa kena penyakit macem2 tuh gara2 sering2 gonta ganti pasangan dan ‘jajan’. Hahaaa….
Eniwei, jujur sih yaa… aku emang pengen nikah muda, dan dalam kacamata saya [sekilas], aku telah menemukan seseorang yang ingin aku ajak untuk mengarungi bahtera rumah tangga, tapi dari beliaunya ga tau nih, mau ato enggak. Yaahhh….kalo jodoh juga ga kemana kok? :p
Lanjjuuutttt…..
Nah, dalam masa penantian seperti ini sambil menunggu skripsiku kelar dan lulus, aku banyak belajar dari perkawinan beberapa orang terdekat yang memberikan gambaran baik secara jelas maupun enggak. Tapi dari itu semua, aku bisa belajar jikalau nanti rumah tanggaku seperti itu.
Guys, masih inget dengan noteku “Jika [itu] alasanmu [untuk] menikah”??
Dalam notes itu dijelaskan tentang kisah sahabatku yang udah aku anggep sodara sendiri yg bener2 miris deh. Juni kemaren, dia akhirnya menikah dengan si cowoknya ini, dan kemaren, beberapa hari yang lalu, barusan aku ketemu dia, jalan-jalan dan cerita-cerita gitu dehh…
Banyak kenyataan yg baru aku tau dari Sebelum terjadinya pernikahan hingga saat ini dia udah hamil 4 bulan. Aku ga mungkin menceritakannya disini, karena terlalu umum dan miris aja. Aku cuman nangis, iyah… nangis… karena aku sendiri juga ga tau harus berbuat apa?? Aku hanya mampu buat mendengarkan dia cerita, tanpa bisa berbuat apa-apa. Aku hanya membatin dalam hati, seandainya yang ada diposisi dia adalah aku?? apa yang akan aku lakukan??
Intinya, rumah tangganya tidak berjalan dengan baik, bahkan si suaminya udah ga bekerja, yang kerja sahabatku itu, padahal dia lagi
hamil 4 bulan. Si suaminya ini kerjaannya cuman ngomel-ngomel dan nyuruh temenku gawean rumah tanpa kenal waktu. Padahal kita tahu, bahwa wanita hamil itu harus banyak istirahat, ga boleh stress, ga boleh banyak tekanan juga kan. Apalagi hamil anak pertama hamil muda lagi. Ckckckkk….
Trus, seluruh keluarganya menyuruhnya untuk MENCERAIKAN suaminya.!
tapi dia ga mau, karena dia terlalu cinta sama suaminya, udah termasuk dalam cinta buta yang ga bisa diapa-apain. Dia terus ingin bertahan berada disampingnya, menemani suaminya kemanapun sisuami pergi, dan sisuaminya juga ga mau melepas sahabatku.
Pernah nih malem2, saking ga tahannya, sahabatku ini pulang kembali kerumah orangtuanya, trus dia sms aku dan cerita2 minta masukan. Belum sempet aku membalasnya, tau2 ada sms masuk lagi yang isinya si suaminya dateng kerumah orangtuanya buat nyari dia dan menyeretnya pulang.
Aku belum pernah berumah tangga, jadi aku ga pengalaman dalam hal ini. Siapa yang salah dan siapa yg benar aku juga ga paham. Namun, jika saat itu aku berada di posisinya, aku pasti juga berusaha buat kuat dan kalo ga tahan aku pasti akan lari ke orangtuaku. Mencari perlindungan, meskipun aku telah bersuami. Namun jika KDRT atau sejenisnya terus berlangsung dalam rumah tanggaku, aku bisa apa lagi?? salahkah jika aku berlindung pada orangtuaku dalam keadaan seperti ini?? [misalnya].
Kasus lain lagi aku temukan dalam rumah tangga sodaraku. Hingga notes ini diturunkan, mereka masih berseteru dengan garang. Padahal mereka telah memiliki 2 anak. Mereke mau bercerai karena dari si istrinya yang ga setia dan ketawan selingkuh. Sebenernya si suaminya udah memaafkan kelakuan si istri yg selingkuh ini, tapi si istrinya tetep minta cerai dengan dalih si suami ga bisa MENAFKAHI DENGAN CUKUP atau dengan kata lain EKONOMI YANG GA MEMADAI. Si suami udah berusaha mati-matian untuk menghidupi keluarga kecilnya dengan jalan halal, tapi bagi sang istri hal itu ga cukup bahkan merasa kurang-kurang dan kuranggg teruusss….
2 kasus yg berbeda. Yang satu karena konflik internal yang seluruh keluarganya mendukung untuk bercerai tp pasangan ini ga mau bercerai, dan yang satunya karena faktor ekonomi dan X yang membuat pasangan ini masuk dalam proses perceraian padahal seluruh keluarganya MENOLAK perceraian ini.
Dari kasus-kasus ini, aku bisa belajar bahwa pernikahan itu ga sekedar “Qobiltu bla bla blaa….” habis itu walimatul trus malam pertama bikin anak. Tapi pernikahan itu adalah kontrak hidup bersama pasangan kita yang harus dipertanggung jawabkan kepada Allah Swt.
Menikah itu berbeda dengan pacaran, yang kalo udah merasa ga cocok dan berantem bisa putus gitu aja, kalo menikah yg namanya perbedaan, ketidak cocokan dan perselisihan itu pasi ada dan harus disikapi dengan benar, agar semuanya selaras dengan niat awal menikah. Karena setelah nanti kita menikah dan hidup bersama, akan ada masalah-masalah yang mulai timbul dengan berjalannya waktu. Ekonomilah, kebiasaan, adat istiadat, gaya hidup dan lain sebagainya, belum lagi jika kita memilih untuk tinggal di pondok mertua indah, akan ada lagi problem yg timbul yang harus disikapi dengan baik.
Nah, pernikahan itu bukan main-main, bagiku, sekali kamu menikah sebisanya dijaga hingga akhir hayat. dan luruskan kembali niat awal kamu menikah. Jika kalian memutuskan untuk menikah hanya karena dorongan nafsu, hamil diluar nikah, dan bukan atas dasar ibadah, sebaiknya segera deh ubah niatnya agar bisa mencapai pernikahan yang SAMARA.
Niatku untuk menikah muda karena aku ingin menyempurnakan setengah dien-Nya, lalu aku bisa beribadah bersama, tahajud, puasa, sholat dan tilawah bareng bersama suami. Saling mengingatkan dan menguatkan. Terlalu idealis yaa?? Lebayy yaa?? hahaa…
tapi itulah rumah tangga yg aku inginkan. Meskipun aku tau nantinya akan ada konflik dan problematika yg akan timbul seiring dengan berjalannya waktu, tapi aku harap aku dan suamiku nanti bisa menyikapinya dengan benar. Entah siapa yg menjadi suamiku nanti, biar Allah aja yg menentukan. Pilihan Allah lebih baik daripada pilihanku. Amin
Hahahaaaayyy….
So, siapkah kalian untuk menikah?? memasuki episod baru dalam hidupmu??
-tyz-
ps. Bagi yang udah menikah, monggo di share biar yang laennya juga bisa belajar.. ^_^