Suatu hari aku berkumpul bersama teman-temanku. Lagi nongkrong dikantin seperti biasanya, ngobrolin hal-hal yang seru, dan tiba-tiba temenku tanya ke aku dan temanku lainnya.
“kamu hidup tujuannya apa sich?”tanyanya. Namanya Arda. Sahabatku sejak di SMA.
“tujuan hidupku?apa ya?? Kawin kali ya…” jawab Bram temanku satunya
“kalo aku, pengen nikah dan hidup bahagia bersama dia” jawabku (ketika itu aku masih jalan dengan pacarku).
“lha kalo kamu Ar??” tanyaku balik, dan dia hanya tersenyum sambil menyeruput tehnya. Aku dan Bram hanya bertukar pandangan.

Beberapa bulan kemudian aku putus dengan pacarku, karena suatu permasalahan yang ga selesai-selesai. Ya…hidupku hancur dan udah ga ada semangat lagi. Rasanya duniaku mau kiamat aja…(lebay abiez deh….). Dan ketika itu Arda menghampiriku.
“apa tujuan hidupmu selanjutnya setelah kehilangan dia?” tanyanya
“aku udah ga punya tujuan hidup” jawabku dengan tatapan kosong. Dia hanya tersenyum dan membelai lembut kepalaku.
“hidup itu cuman sekali, carilah tujuan hidup yang lebih bearti, yang kamu kejar ta pernah berhenti oleh waktu” ujarnya Ringan. Aku hanya diam dan membisu.
Beberapa minggu kemudian aku mencari-cari Arda, dikantin, dikelas, diruangan2 lainnya tapi ga ketemu2 juga, kata temannya dia sakit, akhirnya aku mengunjungi rumahnya untuk menjenguknya.
Sesampainya dirumahnya, dia masih tidur dengan tenang, aku mendekatinya dan duduk disampingnya sambil memegang tangannya.
“aku udah memiliki tujuan hidup lagi Ar, sesuai insyarat yang kamu berikan ke aku pada waktu itu” namun Arda tidak bergerak sama sekali.
“kali ini aku mengerti bukan materi yang kamu maksudkan, bukan juga seseorang yang kamu insyaratkan…..karena aku mengerti itu ta akan pernah abadi, itu akan datang dan pergi menurut berjalannya waktu”
“kali ini tujuan hidupku sama denganmu, mencari kunci surga, yang ga akan pernah kita ketahui kita telah mendapatkannya atau belum, kita akan mengejarnya hingga nanti kita mati….kamu udah ngebukakan mataku, aku sadar semuanya cuman titipanNya dan jika sudah waktunya nanti diambil atau dipisahkan dariku, aku ta bisa berbuat apa-apa selain mengikhlaskan apa yang datang dan apa yang pergi”
(Dedicated for him yang udah buat aku mengerti tujuan hidupku)





, tapi aku harus optimis, apapun halangan yang menghadang harus tetep semangat menyukseskan acara ini.







